Saturday, March 3, 2018

Sibuk Kerja? , Lakukan 5 Hal Ini Biar Tak Lupa Kodratmu

Workaholic jadi sebutan bagi orang yang gemar bekerja, dan kamu sendiri salah satu dari mereka. Saking semangatnya bekerja terkadang membuat kamu lupa waktu, terutama bagi yang bekerja di luar kota. Pekerjaan yang menumpuk seperti mengiming-iming untuk lembur dan itu kerap membuatmu tergoda, hingga akhirnya jarang pulang ke rumah.
Bukan hanya jarang pulang, kesibukan pekerja juga membuat kamu terlena dan menutup diri dari kehidupan di luar kantor. Terang hal ini tak bisa jadi pembenaran sebab sesungguhnya duniamu bukan hanya meraih karir semata. Kamu juga perlu melakukan hal-hal lain yang sudah kodratnya kamu lakukan sebagai manusia, supaya hidupmu tidak hampa karena kerja melulu.

1. Jaringan pertemanan sudah semestinya dijaga, supaya jika sewaktu-waktu kamu butuh sesuatu atau ingin bertemu mereka bersedia

 

Arti pertemanan via unsplash.com

 

Kehadiran teman sangat vital bagi kehidupan kita. Tidak hanya bantuan yang diberikan saat kamu membutuhkan pertemanan, tapi juga ketika kamu sedang kesepian, butuh hiburan, dan lain-lain kehadiran mereka begitu penting. Bekerja kerap kali membuat kita tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan mereka sebanyak dulu. Mengingat arti pentingnya seorang teman sudah seharusnya kamu menjaga hubungan dengan bertukar kabar dan sekali waktu menghampiri mereka agar ikatan persaudaraan kamu tidak hilang.

2. Jangan lupa untuk mencari tambatan hati, ingat pasangan lah yang bisa membuat hidupmu lebih berarti

 

adsaf via unsplash.com

Sibuk mengejar karir acap kali dijadikan alasan untuk menunda mencari pasangan atau menikah. Sejatinya sah-sah saja selama ada batas yang jelas kapan kamu akan selesai dengan ambisi karir itu. Ingat terlalu lama lajang tidak begitu baik untuk psikologis. Bagaimana pun juga sudah kodrat manusia untuk berpasangan. Selain itu memiliki pasangan juga bisa membuat semangat bekerja meningkat serta membantu meringankan beban pikiran.

3. Jangan lupa menjaga berolahraga rutin, tak hanya kesehatan yang terjaga tapi juga fokusmu dalam berkerja

 

 Olahraga rutin via unsplash.com

Rutinitas kerja yang menuntut dirimu harus selalu stand by mesti didukung oleh kondisi fisik yang mumpuni. Tubuh yang terlalu diforsir dan pikiran yang selalu bekerja lama-kelamaan bisa membuat kondisi badan menurun. Selain asupan gizi, olahraga rutin bisa membantumu untuk selalu fit tiap urusan pekerjaan memanggilmu. Ingat kata pepatah, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Kalau tubuh dan jiwa seaat niscaya berdampak pada produktivitas kerja.

4. Lakukan hobimu sesekali agar penat dan keluh kesah dalam diri terlepaskan

 

Puaskan batin dengan melakukan hal yang disukai via unsplash.com

Selain berolahraga, kepenatan yang melanda pikiran dan jiwa kita atas beban pekerjaan yang tidak ada habisnya mesti segera diatasi agar kamu tidak stres. Kalau sudah stres, tidak hanya kondisi tubuh yang menurun, tapi juga produktivitas pekerjaanmu yang menurun. Hendaknya hal itu kamu siasati dengan sekali waktu melakukan hobi yang kamu sukai.

5. Jangan lupa beramal, karena ini salah satu cara berbagi kebahagian paling sederhana

 Menabung pahala via unsplash.com

Hidup tak melulu soal uang. Punya banyak uang namun kamu tidak punya kontribusi apa-apa terhadap orang lain sama saja bohong. Sejatinya kamu termasuk orang yang beruntung telah memiliki pekerjaan dan berpenghasilan lumayan. Sudah semestinya berkah itu kamu syukuri dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Memberi.
Namun yang lebih baik lagi adalah ketika kamu berderma, menyisihkan sebagian penghasilanmu untuk diberikan kepada mereka yang kurang mampu. Ya, itung-itung persiapan tabungan lah untuk di kehidupan yang akan datang.

 Bekerja adalah hal yang penting bagi kita semua. Namun mengingat realita yang terjadi, semakin giat dan intens kita bekerja, semakin lama kita cenderung melupakan hal lainnya pada kehidupan sekitar. Kita menjadi cenderung apatis terhadap hal-hal di luar pekerjaan kita. Hal ini tentu kurang baik bagi kita sebagai karena bertentangan dengan kodrat kita sebagai manusia. Mari sama-sama kita melakukan evaluasi diri, agar ke depannya kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi


Sumber : Hipwee.com

Labels:

Friday, March 2, 2018

Interseks Tidak Langka, dan Operasi dini Bukan Solusi

Sebelum bertemu Caesar Abrisam—panggilan akrabnya "Bang Sam"—Handoko (bukan nama sebenarnya) tak pernah tahu istilah interseks. Ia cuma pernah dengar "kelamin ganda," istilah yang dipakai media untuk menggambarkan kelahiran bayi dengan genitalia yang tidak diidentifikasi sebagai pria atau wanita. Sebelum bertemu dengan Sam pula, Handoko mengira dirinya perempuan, yang menyukai perempuan.

Sejak kecil ia memang merasa berbeda. Tubuhnya lebih tinggi dan bidang ketimbang anak perempuan kebanyakan. Ia juga lebih gemar bermain dengan kawan-kawan pria dan robot-robotan ketimbang boneka. Namun, karena lingkungan keluarganya yang religius dan cukup tertutup, ia memendam kebingungan itu sendirian.

Ia makin merasa berbeda ketika SMP mulai punya perasaan kepada kawan perempuan sebaya. Tapi, karena diajari hal tersebut "salah," ia masih terus memendamnya. Perasaan bersalah itu menghantui Handoko.

Ia akhirnya memutuskan untuk memakai jilbab dengan harapan bisa lebih tenang. Ia jengah dengan ledekan dan rundungan kawan-kawannya yang menganggap anak perempuan maskulin sepertinya adalah "aneh."

Pada titik paling stres, Handoko sempat beberapa kali ingin bunuh diri. Tekanan lingkungan dan keluarga yang eksklusif membuat stres dia semakin parah. Namun, sekitar tahun 2013, Handoko bertemu Sam, aktivis isu gender.

“Dari Bang Sam, gue tahu tentang interseks. Dia juga yang nyaranin gue untuk medical check-up supaya emang tahu apa beneran interseks atau bukan,” ungkap Handoko.

Sejak bisa mengingat, pria kelahiran 1995 ini hanya tahu ia dibesarkan sebagai perempuan. Keluarganya tak pernah cerita atau membahas apa pun tentang "kelainan" yang dimilikinya sejak lahir.

Handoko, sebagai remaja putri, bahkan merasa wajar belaka ketika menstruasi tak pernah datang padanya. Anggota keluarganya juga enggan bertanya atau membahas.

Ia ingat pernah dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, ketika berumur 5 atau 6 tahun untuk melakukan pemeriksaan. Tapi, karena keterbatasan biaya, ia tak pernah tahu pemeriksaan medis itu untuk apa. Handoko cuma ingat bahwa ia sempat melakukan cek darah, yang hasilnya juga buram semata dalam ingatannya.

Barulah pada tahun lalu ia menerima pernyataan medis resmi yang menyebut dirinya memang interseks. Handoko tak hapal termasuk variasi interseks yang mana, tetapi ia memiliki penis yang lebih besar dari ukuran vaginanya.

Interseks memang punya banyak variasi. Sejauh ini dunia medis mengenal 30 hingga 40 variasi, yang semuanya tak diidentifikasi sebagai pria atau wanita. Namun, bukan berarti interseks adalah peristiwa langka.

Dokter Ilene Wong, ahli urologi asal Amerika Serikat yang biasa menangani pasien interseks, menyebut ada sekitar 1,7 persen populasi manusia lahir sebagai interseks. Prevalensinya: 1 per 2.000 bayi.

“Ada puluhan kondisi interseks yang berbeda termasuk hiperplasia adrenal kongenital (CAH), sindrom insensitivitas androgen lengkap (CAIS), dan Sindrom Swyer,” kata dokter Wong kepada saya.

Dalam dunia "gender biner"—tempat pengetahuan gender cuma didefinisikan sebagai laki-laki dan perempuan—interseks sering kali disebut "gender ketiga", yang dianggap langka dan minoritas. Eksklusivitas dan pengetahuan yang terbatas tentang topik ini akhirnya menciptakan stigma dan diskriminasi.

Hal inilah yang membuat Handoko enggan dituliskan nama aslinya dalam artikel ini. Menurut Sam, kawan Handoko yang bekerja pada Arus Pelangi, organisasi nirlaba yang peduli kelompok LGBTIQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks, dan queer), sifat tertutup para interseks adalah "hal wajar." Ia sepakat bahwa pengetahuan dan akses informasi yang terbatas menjadi sumber utamanya.

Beberapa sumber saya yang lain bahkan sama sekali menolak bercerita dengan alasan menjaga privasi.

Namun tidak begitu bagi Adhitya Dwi Prananta. Ia cukup terbuka dengan identitasnya sebagai interseks. Menurut Adhit, topik ini penting untuk didiskusikan karena “kenyataannya interseks bukan hal langka."

Operasi Kelamin Butuh Persetujuan Pasien

Salah satu poin penting yang dimaksud Adhit adalah operasi perombakan kelamin kepada anak-anak interseks. Ia mengalami hal tersebut. Penis Adhit dimutilasi saat masih bayi karena orangtuanya menuruti dokter yang menyarankan Adhit untuk jadi perempuan.

Dalam sejarah awal medis modern, interseks biasa disebut dengan istilah DSD—Differences of Sex Development. Ia dianggap keabnormalan dan harus disembuhkan dengan cara dioperasi. Biasanya genitalia seorang interseks akan dirombak sesuai kelamin pria atau wanita saat mereka masih bayi.

Menurut Kyle Knight, peneliti Human Rights Watch, masih banyak dokter yang langsung menyarankan operasi kepada orangtua yang punya anak interseks. Keterbatasan pengetahuan akhirnya membuat orangtua menuruti nasihat itu.

Di Indonesia, menurut dokter Eni Gustina, Direktur Kesehatan Keluarga dari Kementerian Kesehatan, operasi masih dijadikan jalan keluar yang disarankan medis. Namun, semua keputusan tetap diberikan oleh orangtua.

“Ketika dia lahir, kita akan melihat dia dominan ke mana,” kata Eni. “Ada Keputusan Menteri Kesehatan nomor 191 tahun 1989 yang mengatur operasi penyesuaian kelamin.”

Menurut Kyle, operasi macam ini tak perlu terburu-buru sebab "punya risiko besar," termasuk kemandulan dan gangguan fungsi seksual, kehilangan gairah seksual, luka fisik permanen, hingga trauma emosional dan psikologis.
 Dokter-cum-psikolog Katherine Baratz-Dalke dari Amerika Serikat berpendapat serupa Kyle. Saat diwawancarai via surel, dokter Dalke berkata bahwa memang ada beberapa jenis operasi yang perlu dilakukan kepada interseks dalam "kasus-kasus tertentu."

Misalnya, pembedahan saluran kencing dalam situasi yang membutuhkan pertolongan segera. Operasi ini tetap punya risiko, tapi “kebanyakan orang setuju bahwa manfaatnya lebih besar daripada risikonya, dan operasi ini biasanya perlu dilakukan saat mereka masih sangat muda,” ujar dokter Dalke, yang juga terlahir interseks.

Namun, operasi lain harus menunggu. Terutama yang alasannya cuma “untuk membuat mereka terlihat ‘normal’,” tambahnya.

Operasi-operasi semacam ini bisanya cuma ditawarkan dengan alasan mengkhawatirkan dampak sosial dan psikologi kepada anak-anak interseks karena punya bentuk tubuh berbeda.

“Jadi berbeda memang sulit—bisa membuat orang diejek dan didiskriminasi, tapi tak ada jaminan kalau operasi juga akan membuat hidup mereka lebih mudah dan gampang diterima,” kata dokter Dalke.

“Risikonya terlalu tinggi dan bahaya. Karena itulah kita membutuhkan persetujuan dari orang interseks itu sendiri. Hanya orang yang mendapatkan operasi dapat membuat keputusan tentang apakah risiko tersebut sebanding dengan manfaatnya.”

Dokter Wong menambahkan, karakteristik eksternal seorang interseks tak bisa cuma dideteksi atau dilihat dari luar—apakah ia terlihat seperti laki-laki atau perempuan standar. Dampaknya bisa fatal jika mengeluarkan diagnosis prematur.

“Dan ketika orang-orang menjalani operasi tanpa persetujuan, mereka sering merasa dijahati, dan beberapa bahkan mengatakan hal itu terasa seperti pelecehan seksual,” ujar dokter Dalke.

Hal itu yang juga dirasakan Adhit jika mengingat ada bagian dari dirinya yang “dibuang” tanpa sepengetahuannya. Tapi, sejauh ini, ia tak merasa ada yang bermasalah dengan kesehatan genitalianya.

“Tapi enggak tahu juga ke depan-depannya,” Adhit masih memendam perasaan kecewa.



Handoko "agak" lebih beruntung. Orangtuanya belum sempat melakukan operasi apa pun kepada dirinya saat masih kecil. Ia kini sudah berada pada usia "consent"—yang dalam hukum di Indonesia sebagai usia dewasa atau 18 tahun ke atas—untuk menentukan akan hidup sebagai pria ke depannya.

Untuk itu, Januari kemarin, Handoko sudah melakukan operasi pemasangan saluran urin pada penisnya. Sebelumnya, Handoko juga sudah mengajukan pergantian identitas di pengadilan yang membuatnya legal tercatat sebagai pria. Ia kini siap memulai hidup baru.

Dokter Wong sadar bahwa penanganan medis terhadap orang dengan interseks adalah "salah satu kegagalan terbesar pengobatan modern."

“Dan saya pikir, kegagalannya sudah sampai level sistemik,” tambahnya.

Ia punya pesan penting buat para orangtua: mulai mengubah pola pikir, dan “ada banyak cara berbeda untuk membesarkan anak kita, dan tidak malu pada diri mereka yang sebenarnya adalah salah satu cara itu.”


Sumber : Tirto.id

Labels:

4 Pikiran Cowok Cuek yang Tak Pernah Kamu Tahu. Sebenarnya Mereka Se-sweet Itu

Punya cowok cuek memang sedikit menyebalkan. Kamu berharap diperhatikan dan dimanja-manja, tapi dia selalu memasang ekspresi lempeng saja. Sudah melempar banyak kode, tapi sepertinya pesannya tak sampai. Bilang kedinginan maksudnya supaya si cowok memberikan jaketnya seperti layaknya aktor drama Korea, eh malah disuruh mematikan kipas angin saja. Bagaimana nggak geregetan, coba?!

Sebenarnya apa sih yang tersimpan dalam pikiran cowok yang cueknya kebangetan ini? Apa memang mereka se-nggak peduli itu? Eits, jangan berburuk sangka dulu. Dibalik sikap cueknya yang membuat emosi hatimu, sesungguhnya ini lho isi hari cowok cuek yang bisa bikin kamu meleleh habis-habisan. Penasaran? Simak sampai bawah!

1. Saat dia tak kunjung menghubungimu, sebenarnya dia sedang memberimu ruang dan kepercayaan untuk berkembang

 

 me-time via www.123rf.com

Gemas nggak sih kalau si dia nggak memberi kabar seharian? Ditunggu-tunggu teleponnya dari pagi sampai malam tak kunjung tiba. Gengsi juga rasanya kalau setiap saat kamu yang harus menghubungi duluan. Jangan buru-buru berpikir dia nggak peduli. Dia hanya sedang memberimu waktu untuk dirimu sendiri. Dia tahu kamu punya segudang kepentingan dan kesibukan lain, dan tak ingin membebanimu dengan pesan yang harus dibalas saat itu juga.

2. Saat kamu menunggu-nunggu dia bilang cinta, dia pilih untuk langsung menunjukkannya. Apa dia selalu ada saat kamu membutuhkannya?

 

 nggak pernah bilang cinta via www.123rf.com

Mungkin dia bukan tipe orang yang mengumbar kata cinta tiga kali sehari seperti minum antibiotik. Mungkin kata-katanya yang irit dan jauh dari romantis membuatmu bertanya-tanya dia itu sebenarnya cinta nggak sih? Daripada menilai perasaannya dengan ucapan, kenapa nggak dilihat dari apa yang sudah dia lakukan saja? Meski dia jarang mengucapkan cinta, bukankah dia selalu berusaha ada saat kamu membutuhkannya?

3. Saat kamu kesal karena dia nggak mau membalas mention kamu di medsos, sesungguhnya dia baca dan tersenyum-senyum saja

 

 Balas mention aku dong beb! via www.123rf.com

Maksud hati ini bermesraan di media sosial. Sekalian pamer kalau kamu punya pasangan. Puluhan kali dimention, dia tak pernah membalas. Paling banter cuma balas “Ok”, “iya”, atau “sip”. Siapa yang nggak bete? Kadang kamu sampai mikir dia sebenarnya nggak pernah membaca mention-mu. Sebenarnya dia membaca kok. Mungkin dia juga tersenyum-senyum saat membaca mention manjamu. Tapi alih-alih membalasnya di sana, dia lebih suka membalasnya di WhatsApp, atau ditelepon sekalian. Bener nggak nih?

4. Saat dia begitu nyebelin karena nggak mau diajak foto bareng, sesungguhnya dia ingin kalian fokus menikmati suasana bukan sekadar cekrak-cekrek saja

 

 fokus untuk menikmati suasana via www.123rf.com

Cowok cuek biasanya identik dengan malas foto. Kalau diajak selfie, ada aja alasan untuk menolak. Kalaupun jadi, pasti ekspresinya kelihatan terpaksa dan tersiksa gitu. Saat jalan-jalan bareng, dia lebih suka jadi tukang fotomu dibanding kalian foto bareng berdua.
Jangan sebal dulu. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin menikmati setiap momen bersamamu. Tanpa disibukkan bagaimana mengatur ekspresi dan memilih spot unyu untuk mengambil foto. Dia ingin mengabadikan kebersamaan kalian dengan kenangan, bukan foto-foto yang jumlahnya sampai ratusan.

Jadi saat kamu sedang kesal-kesalnya dengan si dia yang super cuek, positif thinking saja. Nggak menghujanimu dengan perhatian ataupun kata cinta bukan berarti dia nggak benar-benar cinta kok. Sekali-kalinya si cuek itu bersikap romantis dan penuh perhatian, bisa meleleh sampai habis kamu nanti. Hehe

Sumber: Hipwee.com

 

 

Labels: